Sambutan Kepala Desa Paumali
Yang saya kasihi, seluruh masyarakat desa Paumali dan para pencinta serta pemerhati Paumali dimana pun berada.
Pertama-tama patutlah kita panjatkan puji syukur berlimpah kepada Tuhan sang penyelenggara kehidupan yang telah, dan terus memberikan berkat untuk semua perjuangan dan harapan kita demi mengubah peradaban dunia, supaya semakin baik sesuai cita-cita luhur karya penciptaan-Nya.
Sebagai generasi penerus kehidupan dan perjuangan Desa Paumali yang kita kenal saat ini, kita tidak boleh lupa akan perjuangan para leluhur yang telah mewariskan semangat perjuangan dan nilai-nilai kekerabatan, mulai dari perjuangan bersama mereka antara Pau dan Mali hingga mendapatkan tanah Kedimali sebagai hadiah perjuangan bersama, yang diwariskan untuk semua anak sucu hingga akhir masa. Karena itu, patutlah kita mengucapkan banyak terima kasih kepada mereka semua yang tidak dapat kita sebutkan satu persatu, mulai dari era perjuangan sampai para penerus yang telah berjuang, membangun sekolah, berjuang memekarkan desa bahkan banyak yang tidak sempat menikmati hasil perjuangan itu, karena sudah lebih dahulu kembali ke sang Ilahi. Termasuk mereka yang tidak sempat menikmati jalan yang bisa dilalui roda dua dan roda empat, yang bagi banyak orang dikatakan mustahil kendaraan bermotor bisa masuk Paumali.
Jika dulu belasan orang sakit atau jenazah yang harus ditandu dari Kedimali ke kampung lain atau sebaliknya, tapi kini, semua telah berubah kisah, selalu menggunakan kendaraan bermotor. Jika dulu Kedimali hanya diterangi lampu pelita dimalam hari, kini Paumali sudah bisa menikmati penerangan dan penggunaan arus listrik siang dan malam.
Kepada mereka semua kita menyampaikan banyak terima kasih, dan kita berdoa, semoga jiwa mereka bahagia di surga.
Jika dulu kampung Kedimali dianggap udik dan serba sulit, dengan topografi yang sangat menantang adrenalin, tapi kini setelah Kedimali berbulat hati memekarkan desa, dari desa induk Pautola, dan bermufakat memilih nama desa Paumali, kesulitan-kesulitan itu mulai perlahan-lahan terurai melalui proses pembangunan berkelanjutan, dengan memanfaatkan dana desa untuk membuat Paumali memiliki daya saing dengan desa-desa yang sudah dimudahkan oleh proses pembangunan dan fasilitas pendukungnya.
Dalam kesulitan desa Paumali ini, yang dulu dikenal dengan nama Kedimali, sesungguhnya ada kisah nyata sejarah yang tidak tertulis, bahwa Ir. Soekarno, sang proklamator kemerdekaan Indonesia, pada saat pembuangan di Ende, ia pernah berjalan kaki turun dari Gunung Koto, melewati Kedimali, sempat disuguhi ubi jalar rebus oleh salah satu orang tua kami Siprianus Pidi (alm). Almarhum berkisah bahwa Soekarno, mampir dipondok dan memperkenalkan diri sebagai Soekarno lalu minta air karena haus, sehabis minum air putih lalu makan ubi jalar rebus, Soekarno katakan “musuh sudah dekat di Maunori, saya harus melanjutkan perjalanan.” Maka ia melanjutkan perjalanan turun menuju Maunura. Kisah ini diceritakan oleh almarhum Siprianus Pidi pada tahun 2001, saat itu ketika penulis sambutan ini datang menggunakan baju bergambar Ir. Soekarno. Bapak Siprianus Pidi yang tidak tahu baca tulis dan tidak pernah tahu informasi berita bahkan tidak pernah tahu televisi, melihat gambar dibaju tersebut, ia langsung mengatakan dengan pandangan tercengang dan nada keheranan dalam bahasa daerah, dan jika diIndonesiakan menjadi demikian: “Loh…. ini Soekarno yang di Eda (lokasi kebun) minta air di kami, saat jalan kaki dari Koto, setelah makan ubi jalar rebus, dia bilang musuh dekat di Maunori, lalu ia pamit dan jalan lagi ke arah Maunura.”
Bahwa dua minggu kemudian ada tiga orang sordadu Belanda, (kulit putih, rambut putih, postur sangat tinggi besar, berpakaian seperti tentara, tapi pakaiannya agak lebih putih tidak terlalu hijau dan bersepatu seperti tentara) ditemani seorang mandor dari Pautola datang bilang cari Soekarno, kami sangat takut dengan mereka. Tapi kami bilang dia cuman lewat saja disini sekitar dua minggu lalu.
Bahkan jauh sebelum itu, kampung yang dikenal sebagai Kedimali ini, sesungguhnya adalah kampung “MARI” yang dikisahkan oleh para misionaris gereja Katolik, merupakan perjalanan para misionaris Portugal mewartakan injil pada abad ke-16 di Nagekeo dari wilayah timur Pulau Flores, ke Flores tengah, yakni Tonggo (ada makam imam dan pelayannya di Late Bhala), Mari (Kedimali/Kelimari yang sekarang menjadi Desa Paumali), juga Lena dan Kawa.
Semoga historis ini kelak bisa diulas oleh para peneliti dan pencinta sejarah.
Memasuki 80 tahun Indonesia merdeka, Paumali yang terpencil dengan topografi yang sulit ini, ingin perlahan mengikuti perkembangan teknologi informasi dengan membuat Website Desa Paumali, agar memudahkan orang-orang di luar sana mengenal desa Paumali. Kita mungkin tidak bisa bersua muka atau bersalaman tangan, tapi kita pasti bisa saling bertukar informasi untuk kemajuan bersama. Kami mungkin tidak bisa berlari secepat kalian di kota, tapi kami akan terus berusaha berjalan terus agar juga bisa sampai ke ujung bumi.
Mari manfaatkan kemudahan teknologi saat ini, untuk memanusiakan manusia. Semoga website desa Paumali diterima oleh semua lapisan masyarakat terutama oleh para pencinta dunia teknologi informasi. Kami sadar, masih banyak kekurangannya, maka masukan dari para pembaca informasi website kami, selalu kami nanti dengan tangan terbuka untuk perubahan konstruktif demi kemajuan desa Paumali.
Salam hangat dari desa di atas awan, dekat puncak gunung Koto, desa terpencil berbudaya, topografi sulit, Desa Paumali, di Kabupaten Nagekeo, Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Untukmu semua di mana saja berada, salam kenal, salam persahabatan dan salam kemanusiaan. Kami menanti uluran tangan dan dukungan kalian semua untuk memajukan desa kami, baik moril maupun materil.
Paumali, Juli 2025
Kepala Desa
Ttd
Primus Rabu, SH., S.SOS., MM.